Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI): Pembelajaran dari Kemajuan Indonesia
Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di setiap fasilitas pelayanan kesehatan merupakan hal yang sangat penting. PPI melindungi pasien dan tenaga kesehatan dari risiko terkena infeksi selama proses pelayanan kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan penilaian terhadap implementasi PPI di Indonesia pada November–Desember 2024, yang menunjukkan bahwa rumah sakit di Indonesia semakin mengadopsi pendekatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Kemajuan Nasional dalam Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Indonesia
80% rumah sakit yang dinilai mencapai performa “advanced” pada setidaknya 5 dari 8 komponen PPI
Tidak ada rumah sakit yang berada pada kategori “Basic” atau “Inadequate”
Terjadi peningkatan implementasi program PPI secara nasional
Kebijakan dan Tata Kelola PPI di Indonesia
Program PPI telah terintegrasi dalam Agenda Transformasi Kesehatan Indonesia serta RPJMN 2025–2029, yang selaras dengan tujuan Universal Health Coverage (UHC).
Permenkes No. 27 Tahun 2017 menjadi dasar hukum standar PPI di rumah sakit dan fasilitas kesehatan
Kepatuhan terhadap PPI menjadi bagian dari akreditasi rumah sakit
PPI menjadi indikator akuntabilitas pelayanan kesehatan
Dengan demikian, PPI bukan hanya praktik klinis, tetapi juga bagian dari tata kelola sistem kesehatan.
Dampak Pencegahan dan Pengendalian Infeksi terhadap Pelayanan Kesehatan
Pengawasan dapat menyelamatkan nyawa
Rumah sakit yang memiliki sistem pengawasan infeksi dan program antimicrobial stewardship yang lemah cenderung memiliki skor lebih rendah. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu dilatih dalam sistem monitoring dan penggunaan antibiotik yang rasional.
Tantangan kesetaraan pelayanan
Rumah sakit di wilayah perkotaan dan swasta menunjukkan performa lebih baik dibandingkan dengan fasilitas kesehatan di daerah, terutama karena perbedaan sumber daya dan tenaga terlatih.
Kepemimpinan dan kepatuhan
PPI tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada peran tenaga kesehatan sebagai pemimpin dan advokat keselamatan pasien.
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dalam Konteks Global
Infeksi terkait pelayanan kesehatan (healthcare-associated infections / HAIs) masih menjadi tantangan global:
7 dari 100 pasien di negara berpenghasilan tinggi mengalami HAIs
15 dari 100 pasien di negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalami HAIs
1 dari 10 pasien yang terkena HAIs meninggal dunia
2. Kemajuan Indonesia dalam implementasi PPI berkontribusi pada ketahanan kesehatan global dan keselamatan pasien.
Mengapa Pelatihan PPI Penting?
Foto oleh THICA SATAPITANON di Shutterstock
Dampak nyata di Indonesia Sebanyak 80% rumah sakit yang dinilai mencapai performa PPI tingkat lanjut menunjukkan bahwa program PPI yang terstruktur dapat meningkatkan hasil perawatan pasien.
Urgensi global Infeksi terkait pelayanan kesehatan masih menjadi masalah besar di seluruh dunia. Pelatihan PPI membantu tenaga kesehatan memutus rantai transmisi infeksi.
Integrasi kebijakan nasional Kementerian Kesehatan Indonesia telah memasukkan PPI ke dalam agenda transformasi kesehatan dan standar akreditasi rumah sakit, menjadikan kompetensi PPI sebagai kebutuhan profesional tenaga kesehatan.
Bukti dari Studi Infeksi Nosokomial
Penelitian terbaru di rumah sakit Indonesia menunjukkan:
Prevalensi infeksi nosokomial masih berkisar 6–16%
Kepatuhan terhadap Lima Momen Kebersihan Tangan WHO terbukti menurunkan angka infeksi
Program Continuous Quality Improvement (CQI) meningkatkan kepatuhan PPI dan perawatan luka
Faktor manusia seperti pengetahuan, motivasi, supervisi, dan beban kerja mempengaruhi efektivitas program PPI
Mawo, F. H. M., & Molenaar, E. R. (2025). Strategies for prevention and control of nosocomial infections: Literature review. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, 12(1), 39–44.