Pengendalian infeksi adalah salah satu langkah terpenting dalam manajemen risiko kesehatan. Hal ini membantu memastikan keselamatan pasien dengan melindungi mereka dari infeksi terkait pelayanan kesehatan (HAIs). Meskipun kebersihan tangan atau penggunaan alat pelindung diri (APD) lebih dikenal, peran peralatan medis dalam pengendalian infeksi seringkali diabaikan.
Penyedia layanan kesehatan memahami bahwa penanganan, sterilisasi, dan penggunaan peralatan medis yang tepat—mulai dari instrumen yang dapat digunakan kembali hingga sistem pemantauan canggih—dapat secara signifikan mengurangi risiko infeksi di berbagai lingkungan pelayanan kesehatan.
Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana peralatan medis berkontribusi dalam pengendalian infeksi dan apa yang dapat dilakukan tenaga kesehatan untuk meminimalkan risiko infeksi.
HAIs merupakan salah satu kejadian merugikan yang paling umum dan dapat dicegah dalam pelayanan kesehatan, yang menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan pasien, terutama di rumah sakit dan ICU.
Peran peralatan medis dalam pengendalian infeksi memainkan peran penting dalam mengurangi HAIs, terutama di lingkungan berisiko tinggi di mana penggunaan kateter, ventilator, dan peralatan invasif lainnya meningkatkan risiko infeksi.
WHO (2024) melaporkan bahwa 1 dari 10 pasien secara global mengalami HAIs selama perawatan di rumah sakit, dengan tingkat kejadian yang jauh lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah serta pada pasien ICU.
24% kasus HAIs menyebabkan komplikasi berat, dengan pasien ICU menghadapi tingkat kematian 52,3% akibat kondisi terkait infeksi.
Gade et al. (2023) menemukan bahwa HAIs terkait peralatan medis adalah kejadian merugikan ketiga yang paling umum dalam pelayanan kesehatan, dengan ICU melaporkan 5 infeksi per 1.000 hari perawatan pasien, dan ventilator-associated pneumonia (VAP) sebagai yang paling sering terjadi.
Goh et al. (2023) mengidentifikasi Indonesia sebagai negara dengan prevalensi HAIs tertinggi di Asia Tenggara (30,4%), yang menyoroti perlunya peningkatan langkah pengendalian infeksi.
WHO (2024) menegaskan bahwa intervensi pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC) dapat mengurangi HAIs dan resistensi antimikroba sebesar 35-70%, menjadikannya strategi yang sangat efektif serta hemat biaya bagi fasilitas kesehatan di seluruh dunia.
Meskipun peralatan medis penting dalam perawatan pasien, tanpa perhatian yang tepat, peralatan ini juga dapat menjadi sumber potensi infeksi.
Berikut beberapa cara peralatan medis berkontribusi dalam pengendalian infeksi:
1. Peralatan Medis Sekali Pakai
Peralatan ini membantu dalam pengendalian infeksi karena langsung dibuang setelah satu kali penggunaan.
Contoh: Alat suntik, kateter, dan sarung tangan sekali pakai
2. Langkah Utama Pengendalian Infeksi
Fasilitas kesehatan harus mengikuti protokol dekontaminasi yang ketat dan melakukan audit sterilisasi secara berkala untuk mencegah infeksi dari peralatan medis yang digunakan kembali.
3. Peralatan Medis yang Dapat Digunakan Kembali (Re-Use)
Peralatan ini memerlukan penanganan yang tepat, disinfeksi menyeluruh, dan sterilisasi yang cermat untuk mencegah kontaminasi silang.
Contoh: endoskop, alat bedah, dan ventilator
1. Autoklaf (Autoclaving)
Sterilisasi menggunakan uap bertekanan tinggi untuk instrumen bedah.
2. Disinfeksi Kimiawi
Menggunakan antiseptik dan disinfektan untuk menghilangkan patogen.
3. Sterilisasi UV
Teknologi terbaru yang memanfaatkan cahaya ultraviolet untuk mendisinfeksi permukaan dan alat medis.
4. Langkah Utama Pengendalian Infeksi
Rumah sakit harus melatih tenaga kesehatan dalam prosedur pembersihan yang benar serta secara rutin memeriksa peralatan sterilisasi untuk menjaga lingkungan bebas infeksi.
Peralatan medis yang tidak terawat dengan baik atau terkontaminasi dapat menjadi sumber pertumbuhan bakteri. Beberapa contoh termasuk ventilator, mesin dialisis, dan pompa infus.
Inspeksi rutin dan perawatan berkala membantu memastikan peralatan berfungsi dengan baik dan tidak menjadi sumber patogen.
Langkah Utama Pengendalian Infeksi: Terapkan jadwal pemeliharaan preventif untuk semua peralatan medis guna meminimalkan risiko infeksi dan memperpanjang umur pakai peralatan.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), beberapa HAIs paling umum yang disebabkan oleh peralatan medis meliputi:
Jenis Infeksi | Faktor Risiko Peralatan Medis |
1. Infeksi Saluran Kemih Terkait Kateter (CAUTI) | – Penanganan kateter urin yang tidak tepat |
2. Pneumonia Terkait Ventilator (VAP) | – Ventilator & sirkuit pernapasan yang terkontaminasi |
3. Infeksi Luka Operasi (SSI) | – Instrumen bedah yang tidak steril |
4. Infeksi Aliran Darah Terkait Kateter Sentral (CLABSI) | – Penanganan kateter vena sentral yang buruk |
Meninjau 23 studi intervensi, penelitian ini menemukan bahwa tekstil yang diimpregnasi (ditambahkan) dengan zat seperti tembaga, perak, seng oksida, titanium, dan senyawa amonium kuartener efektif dalam mengurangi kontaminasi mikroba ketika digunakan oleh pasien, tenaga kesehatan, dan di lingkungan fasilitas kesehatan.
Penelitian ini juga mencatat kekhawatiran terkait resistensi mikroba serta perlunya penerapan yang hati-hati dalam penggunaannya.
Studi ini membahas pendekatan untuk mengintegrasikan khelator besi ke dalam kateter vena sentral yang diimpregnasi antimikroba guna menekan kolonisasi mikroba dan pembentukan biofilm pada kateter vena sentral jangka panjang.
Pendekatan ini berpotensi mengurangi insiden infeksi terkait kateter serta meningkatkan hasil perawatan pasien.
Studi ini menyoroti pentingnya standarisasi proses pembersihan, penggunaan disinfektan yang tepat, serta pemanfaatan produk pembersih sekali pakai dan dapat digunakan kembali.
Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya pelatihan bagi tenaga kesehatan mengenai protokol pembersihan dan disinfeksi, termasuk pengawasan rutin dan komunikasi tim untuk meningkatkan efektivitas pengendalian infeksi.
Alaska Native Medical Center (ANMC) di Anchorage mencatat penurunan 9% dalam rasio infeksi standar untuk infeksi saluran kemih terkait kateter (CAUTI) pada tahun 2020 dibandingkan dengan 2019.
ANMC juga berhasil mencatat nol kasus CAUTI dari April hingga Desember 2021.
Praktik yang Diterapkan:
1. Meningkatkan pelatihan tentang indikasi yang tepat dan tidak tepat untuk pemasangan kateter serta teknik pemasangan yang benar.
2. Memastikan penggunaan kultur urin yang sesuai serta tidak mengobati bakteriuria asimtomatik.
3. Menggunakan sistem pemantauan data real-time untuk melacak setiap pasien dengan kateter urin menetap, memberikan informasi penting bagi tim dalam pemantauan dan pengendalian infeksi.
Xenco Medical mengembangkan instrumen bedah tulang belakang sekali pakai yang terbuat dari polimer yang diperkuat, sehingga menghilangkan risiko infeksi akibat penggunaan ulang instrumen yang tidak disterilkan dengan benar.
Instrumen ini pertama kali digunakan oleh Dr. Nick Shamie pada 13 Juli 2015 di UCLA.
Edukasi staf mengenai protokol pengendalian infeksi terkait peralatan medis (Centers for Disease Control and Prevention, 2024).
Lakukan audit dan pelatihan rutin untuk memperkuat praktik terbaik.
Baca blog kami tentang pentingnya pelatihan pengendalian infeksi untuk mempelajari lebih lanjut.
Setiap peralatan medis memiliki instruksi sterilisasi dan pemeliharaan yang spesifik.
Mematuhi rekomendasi produsen memastikan peralatan digunakan dengan aman dan efektif (Altayyar, 2020).
Gunakan RFID atau pelacakan barcode untuk memantau penggunaan peralatan dan riwayat sterilisasi (Kusuda et al., 2024).
Mencegah penggunaan ulang secara tidak sengaja terhadap alat medis yang terkontaminasi atau kedaluwarsa.
Pemantauan kebersihan berbasis AI dapat membantu mendeteksi sterilisasi yang tidak tepat (Godbole et al., 2025).
Disinfeksi otomatis menggunakan sinar UV mengurangi risiko kontaminasi di lingkungan layanan kesehatan.
Contoh: Sistem disinfeksi berbasis UV-C dari U.S. Germitec menawarkan alternatif yang cepat dan efisien dibandingkan sterilisasi berbasis bahan kimia, khususnya untuk probe ultrasound non-lumen.
Kemajuan dalam Nanoteknologi untuk Peralatan Medis
Lapisan antimikroba berbasis nanoteknologi telah dikembangkan untuk peralatan medis (Suresh Kumar Mondal et al., 2024).
Contoh:
Nanopartikel tembaga untuk melapisi peralatan medis.
Nanopartikel hibrida dan nanokomposit untuk melapisi implan medis.
Menerapkan kebijakan pengendalian infeksi yang ketat dan mematuhi standar regulasi merupakan komponen penting dalam manajemen peralatan medis yang efektif.
Di Indonesia, pengendalian infeksi yang terkait dengan peralatan medis diatur oleh berbagai lembaga dan regulasi untuk memastikan bahwa praktik penggunaan dan pemeliharaan peralatan medis memenuhi standar keamanan dan efektivitas yang tinggi. Regulasi ini melibatkan kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta institusi terkait lainnya.
1. Regulasi Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan berbagai peraturan dan pedoman yang mengatur penggunaan dan pemeliharaan peralatan medis. Regulasi ini mencakup sterilisasi dan disinfeksi peralatan medis untuk mencegah penyebaran infeksi di fasilitas kesehatan.
2. BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)
BPOM bertanggung jawab atas pengawasan peralatan medis yang beredar di Indonesia. Registrasi, distribusi, dan pengawasan peralatan medis diatur oleh BPOM untuk memastikan bahwa peralatan yang digunakan telah memenuhi standar keselamatan dan kesehatan yang ditetapkan.
3. SNI (Standar Nasional Indonesia)
Standar Nasional Indonesia (SNI) menetapkan standar kualitas dan keselamatan peralatan medis, termasuk persyaratan sterilisasi dan disinfeksi. Implementasi SNI bertujuan untuk memastikan bahwa semua peralatan medis yang digunakan di fasilitas kesehatan telah melalui proses pembersihan dan perawatan yang sesuai guna mencegah infeksi.
4. Akreditasi Rumah Sakit
Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) adalah lembaga yang menilai dan mengakreditasi rumah sakit di Indonesia. Salah satu aspek yang dievaluasi dalam proses akreditasi adalah pengendalian infeksi, termasuk manajemen dan pemeliharaan peralatan medis di rumah sakit.
5. Pelatihan dan Edukasi
Regulasi di Indonesia juga menekankan pentingnya pelatihan dan edukasi bagi tenaga kesehatan. Pelatihan ini mencakup penggunaan dan pemeliharaan peralatan medis secara steril dan higienis guna mencegah penularan infeksi di lingkungan klinis.
6. Pemantauan dan Pelaporan
Fasilitas kesehatan diwajibkan untuk memantau dan melaporkan setiap kejadian infeksi yang terkait dengan peralatan medis kepada otoritas kesehatan setempat. Data ini digunakan untuk menganalisis dan meningkatkan strategi pengendalian infeksi di berbagai fasilitas kesehatan.
Implementasi kebijakan dan regulasi ini menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa peralatan medis tidak menjadi sumber penularan infeksi di fasilitas kesehatan. Selain itu, regulasi ini bertujuan untuk menjamin keselamatan dan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menekankan bahwa pasien yang terinformasi dapat secara aktif mengurangi risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan (HAIs) dengan menjaga kebersihan yang baik, menggunakan peralatan medis dengan aman, dan memahami langkah-langkah pengendalian infeksi.
Untuk panduan keselamatan pasien dan tips pencegahan infeksi lebih lanjut, kunjungi halaman resmi CDC:
👉 CDC Tips for Being a Safe Patient
Selain itu, CDC juga menyediakan pedoman rinci tentang pengendalian infeksi dan disinfeksi untuk seluruh fasilitas kesehatan.
Akses rekomendasi terbaru terkait pengendalian infeksi di sini:
👉 CDC Infection Control Guidelines
Association for Professionals in Infection Control and Epidemiology, Inc. juga telah merangkum panduan dasar dalam edukasi pasien tentang pengendalian infeksi.
Kunjungi situs mereka di sini:
Peralatan medis sangat penting dalam layanan kesehatan modern, tetapi penanganan, pemeliharaan, dan sterilisasi yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan (HAIs).
Risiko infeksi dapat dikurangi dengan menerapkan kebijakan pengendalian infeksi yang ketat, melatih tenaga kesehatan, dan menggunakan teknologi terbaru.
Daftar di Pelatihan Pengendalian & Pencegahan Infeksi Zafyre dan dapatkan 5 SKP sambil menguasai praktik terbaik dalam manajemen risiko kesehatan.