Memperkuat Pelayanan Preventif di Indonesia: Panduan Skrining Dini bagi Perawat

Pendahuluan: Pergeseran Menuju Pencegahan

Dalam beberapa tahun terakhir, pelayanan preventif di Indonesia semakin ditekankan. Sistem pelayanan kesehatan kini memprioritaskan pencegahan, deteksi dini, dan kesejahteraan menyeluruh daripada mengobati penyakit setelah muncul. Perubahan ini menunjukkan komitmen negara dalam mengurangi dampak penyakit tidak menular (PTM) serta membangun masyarakat yang lebih sehat.

Pada awal 2025, Kementerian Kesehatan meluncurkan program skrining kesehatan preventif gratis untuk jutaan warga Indonesia. Tujuan utamanya adalah mendeteksi risiko penyakit serius sejak dini, sebelum berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Ini mencakup risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, dan stroke. Program ini merupakan langkah penting untuk memperkuat pelayanan preventif di Indonesia, memberikan manfaat bagi masyarakat dan kesehatan nasional.

Bagi perawat dan tenaga kesehatan lainnya, perubahan ini membuka peluang baru untuk memimpin berbagai inisiatif yang berfokus pada promosi kesehatan dan skrining dini. Ini menekankan peran penting mereka sebagai edukator, advokat, dan garda terdepan dalam membangun masyarakat yang lebih sehat dan tangguh.

Artikel ini menjelaskan hal-hal penting yang perlu dipahami setiap tenaga kesehatan profesional untuk mendukung upaya nasional dalam memperkuat pelayanan kesehatan preventif.

Kerangka Regulasi & Kebijakan Kesehatan di Indonesia

Memahami garis besar regulasi sangat penting bagi para tenaga kesehatan profesional di Indonesia. Hal ini mencakup beberapa poin berikut:

1. Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023

UU baru ini memberikan kerangka komprehensif bagi sistem kesehatan Indonesia, dengan penekanan pada pencegahan, promosi kesehatan, dan akses pelayanan kesehatan.

2. Inisiatif Skrining Kesehatan Gratis oleh Pemerintah

Sejak awal 2025, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meluncurkan program skrining nasional yang menargetkan anak di bawah enam tahun dan orang dewasa (18+). Layanan skrining mencakup tekanan darah, penilaian risiko jantung/stroke, pemeriksaan mata, serta pemeriksaan kesehatan mental.

3. Layanan Primer & Standar Pelayanan Minimal (SPM)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 berfokus pada penguatan pelayanan kesehatan primer melalui puskesmas, posyandu, dan kunjungan rumah sebagai pendorong utama pelayanan preventif.

4. Regulasi Daerah

Sebagai contoh, di Kota Bekasi, layanan skrining untuk usia produktif (15–64 tahun) mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 4 Tahun 2019 tentang standar teknis mutu layanan.

Revolusi Pelayanan Preventif di Indonesia

Pelayanan preventif merupakan salah satu inti dari visi pemerintah “Indonesia Emas 2045”. Visi ini menggambarkan rencana nasional untuk membentuk populasi yang lebih sehat dan produktif ketika Indonesia memasuki usia satu abad. Hampir 70% angka kematian di Indonesia diakibatkan oleh penyakit kronis, banyak di antaranya dapat dicegah melalui skrining dini dan perubahan gaya hidup.

Seorang perempuan menjalani pemeriksaan kesehatan pada hari pertama Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas Ciater, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Indonesia, 10 Februari 2025.
Seorang perempuan menjalani pemeriksaan kesehatan pada hari pertama Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas Ciater, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Indonesia, 10 Februari 2025. (Foto oleh Xinhua News/Agung Kuncahya B.)

Skrining Nasional dan Program CKG

Program ini merupakan inisiatif skrining nasional senilai USD 183 juta (Rp3.058.296.000.000) yang menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis tahunan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Fitur Utama Program:

✅Cakupan: Semua warga Indonesia, dari bayi hingga lansia, berhak mendapatkan pelayanan skrining.
✅Pelayanan: Pemeriksaan dasar mencakup tekanan darah, kolesterol, kadar glukosa, dan penilaian risiko PTM.
✅Skrining berbasis sekolah: Siswa sekolah juga mendapatkan pemeriksaan tuberkulosis, kesehatan mata dan telinga, serta skrining hepatitis B.
✅Titik akses: Layanan skrining tersedia di Puskesmas, Posyandu, sekolah, tempat kerja, dan melalui unit kesehatan keliling.

Tujuan Program:

✅Mendorong perubahan pola pikir dari “berobat saat sakit” menjadi “periksa saat sehat.”
✅Menurunkan angka stunting dan masalah kesehatan lainnya yang dapat dicegah.
✅Mengidentifikasi dan menangani penyakit sejak dini untuk mencegah komplikasi serius dan biaya pengobatan yang tinggi.

Upaya ini memperkuat Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan preventif, memungkinkan tenaga kesehatan melakukan skrining indikator kesehatan penting secara merata. Seluruh kegiatan ini sejalan dengan fokus pada kesehatan populasi, yang menekankan kesehatan jangka panjang dan hasil yang lebih baik di tingkat masyarakat.

📖Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kondisi penyakit tidak menular di Indonesia, baca artikel kami sebelumnya tentang Pertarungan Indonesia Melawan Penyakit Kronis.

Peran Garda Terdepan Perawat dan Tenaga Kesehatan

Dalam perkembangan sistem kesehatan saat ini, perawat dan tenaga kesehatan memegang peran penting dalam memajukan pelayanan preventif di Indonesia. Kontribusi mereka sangat krusial untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan melalui edukasi, skrining, dan kegiatan pengabdian masyarakat.

Berikut adalah beberapa peran utama perawat dalam pelayanan preventif (Shigley, 2025):

1. Edukasi Pasien dan Promosi Kesehatan

Perawat mendukung individu dan keluarga untuk mengambil kendali atas kesehatan mereka dengan cara:

Memberikan bimbingan langsung tentang nutrisi, kebersihan, dan perubahan gaya hidup.

Melaksanakan penyuluhan masyarakat yang berfokus pada pencegahan penyakit dan deteksi dini.

Membuat kampanye kesehatan masyarakat untuk mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

2. Melakukan Skrining dan Vaksinasi

Pelayanan preventif bertumpu pada diagnosis dini dan pemberian vaksin. Perawat berperan penting dalam:

Melakukan skrining kesehatan dasar seperti tekanan darah, glukosa, dan kolesterol.

Mendukung program vaksinasi bagi anak-anak, orang dewasa, serta kelompok berisiko tinggi.

Mengawasi tindak lanjut pasien untuk mencegah komplikasi dan memastikan perawatan berkelanjutan.

Kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat di Boyolali, Indonesia, pada 23 September 2025, dengan tema Sehat dan Bahagia, untuk mempromosikan kesehatan dan peningkatan kesadaran. (Foto oleh BronisArt_2023 dari Shutterstock

3. Pengabdian Masyarakat dan Inisiatif Kesehatan Masyarakat

Perawat menjangkau masyarakat lebih luas, tidak hanya bekerja di fasilitas kesehatan, tetapi juga aktif di lapangan dengan cara:

Mengoordinasikan program di Posyandu dan Puskesmas, terutama untuk kesehatan ibu dan anak.

Memimpin inisiatif dalam memerangi penyakit kronis dan penyakit menular di tingkat lokal.

Bekerja sama dengan sekolah, tempat kerja, dan organisasi non-profit untuk meningkatkan kesehatan populasi.

Melalui berbagai tindakan ini, perawat menjadi agen perubahan yang meningkatkan akses, memperluas kesadaran, dan pada akhirnya memperkuat hasil pelayanan preventif di seluruh Indonesia.

Mengembangkan Kompetensi untuk Praktik Preventif

Untuk berhasil dalam paradigma pelayanan kesehatan yang baru, perawat dan tenaga kesehatan Indonesia perlu mengembangkan rangkaian kompetensi yang lebih luas hingga melampaui keterampilan perawatan di samping tempat tidur (bedside care).

1. Kompetensi Klinis

Memahami proses skrining untuk penyakit tidak menular (PTM), kesehatan ibu hamil, kesehatan mental, dan penyakit menular.

Mengetahui cara mengevaluasi temuan hasil skrining dan melaporkannya secara jelas kepada klien.

2. Edukasi Kesehatan dan Komunikasi

Menyampaikan pesan pencegahan dengan cara yang relevan secara budaya dan emosional, misalnya menggunakan analogi kehidupan sehari-hari atau menyampaikan hasil dalam bahasa daerah.  

3. Literasi Digital

Terampil menggunakan rekam medis elektronik, aplikasi mobile, serta proses terkait telehealth untuk melacak distribusi skrining dan pelaporan.

4. Kolaborasi Interprofesional

Bekerja secara kooperatif dan kolaboratif sebagai bagian dari tim kesehatan.

Mengenali peran dokter, ahli gizi, bidan, dan kader/tenaga kesehatan masyarakat untuk mencapai tujuan bersama dalam meningkatkan kesehatan populasi.

 

Pelatihan di bidang-bidang ini tidak hanya meningkatkan kompetensi klinis, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dalam memimpin berbagai inisiatif kesehatan masyarakat, sehingga memperkuat pelayanan preventif di Indonesia.

Tantangan dan Faktor Pendukung dalam Pelayanan Preventif

Meskipun fokus nasional terhadap pelayanan preventif sangat menjanjikan, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi:

Tantangan:

✅Rendahnya literasi kesehatan: Banyak masyarakat masih memprioritaskan layanan kuratif dan mengabaikan skrining preventif.

✅Keterbatasan infrastruktur: Wilayah terpencil sering kali kekurangan alat untuk diagnosis atau tenaga kesehatan terlatih.

✅Data yang tidak konsisten: Hasil skrining sering dicatat secara manual sehingga memperlambat pengumpulan data pada tingkat nasional.

Faktor Pendukung:

✅Government investment: The national screening initiative demonstrates a long-term commitment.

✅Technology adoption: Telehealth platforms and mobile screening units extend care to underserved areas.

✅Workforce development: E-learning and blended training programs make it easier for healthcare workers to gain skills while balancing daily duties.

Perpaduan antara kebijakan, teknologi, dan pelatihan menciptakan momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat infrastruktur pelayanan preventif.

📖Pelajari lebih banyak tentang berbagai keuntungan pelatihan e-learning dalam artikel kami sebelumnya yang berjudul Adaptive Learning: Revolutionizing Your Healthcare Training for Better Outcomes.

Pelayanan Preventif di Indonesia: Kisah Sukses

Studi: Efektivitas Program Pencegahan dan Manajemen Diabetes serta Hipertensi Berbasis Masyarakat di Indonesia dan Vietnam (Studi Kuasi-Eksperimental)

Studi ini mengevaluasi dua program berbasis masyarakat di Indonesia yang bertujuan mencegah dan menangani penyakit tidak menular (PTM), terutama hipertensi dan diabetes.

Program-program ini dilaksanakan di tingkat lokal, melibatkan Puskesmas dan tenaga kesehatan masyarakat terlatih untuk melakukan skrining pada individu berisiko tinggi, memberikan edukasi, serta mendukung perubahan gaya hidup.

✅Hasil Utama

Hasil studi menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pengelolaan faktor risiko: peserta dalam kelompok intervensi memiliki kontrol tekanan darah dan kadar glukosa yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol.

✅Faktor-Faktor Kunci Keberhasilan

Keberhasilan program dipengaruhi oleh:

Skrining dini

Keterlibatan masyarakat

Model kolaborasi pelayanan kesehatan

Tindak lanjut yang konsisten

✅Implikasi

Temuan ini menunjukkan bahwa memperkuat pelayanan preventif di Indonesia melalui program terstruktur berbasis masyarakat adalah layak dan efektif dalam menurunkan beban PTM.

Program seperti ini membuktikan bahwa promosi kesehatan dari tingkat akar rumput dapat mengurangi biaya pelayanan kesehatan jangka panjang sekaligus menyelamatkan nyawa.

Jadilah Bagian dari Perubahan dalam Pelayanan Preventif

Masa depan pelayanan preventif di Indonesia bergantung pada seberapa efektif para tenaga kesehatan profesional menerapkan prinsip pencegahan dari sekarang.

Untuk memperkuat pelayanan preventif dan memberi dampak jangka panjang:

Ikut serta dalam program skrining lokal dan kegiatan pengabdian masyarakat.

Edukasi pasien tentang faktor risiko, deteksi dini, dan perubahan menuju gaya hidup sehat.

Tingkatkan keterampilan melalui pelatihan berkelanjutan dan pengembangan profesional.

Setiap skrining yang dilakukan, setiap percakapan tentang kebiasaan sehat, dan setiap tindakan proaktif berkontribusi pada Indonesia yang lebih sehat.

Ambil langkah berikutnya

Bergabunglah dalam program pelatihan kesehatan Zafyre untuk mendapatkan keterampilan praktis, sertifikasi, dan kepercayaan diri dalam memimpin inisiatif kesehatan masyarakat.

 

DAFTAR SEKARANG

“Pelayanan preventif dimulai dari kita — satu skrining, satu pasien, dan satu masyarakat pada satu waktu.”
Referensi:

1. Fritz, M., Grimm, M., My Hanh, H. T., Koot, J. A. R., Nguyen, G. H., Nguyen, T.-P.-L., Probandari, A., Widyaningsih, V., & Lensink, R. (2024). Effectiveness of community-based diabetes and hypertension prevention and management programmes in Indonesia and Viet Nam: a quasi-experimental study. BMJ Global Health, 9(5), e015053. https://doi.org/10.1136/bmjgh-2024-015053

2. Heru Asprihanto, & Widianto, S. (2025, February 10). Indonesia launches $183 million free health screening to prevent early deaths. Reuters. https://www.reuters.com/business/healthcare-pharmaceuticals/indonesia-launches-183-million-free-health-screening-prevent-early-deaths-2025-02-10/ 

3. Kadin Indonesia. (2024, May 21). Indonesia Emas – KADIN Indonesia. KADIN Indonesia. https://kadin.id/en/program/indonesia-emas/ 

4. Shigley, B. (2025, April 25). The Nurse’s Role in Preventative Care: Strategies for Promoting Public Health. Indwes.edu; Indiana Wesleyan. https://www.indwes.edu/articles/2025/04/the-nurses-role-in-preventative-care