Diabetes mellitus (DM) adalah salah satu kondisi yang pada awalnya tampak sederhana. Kita sering mendengarnya di berita atau mungkin salah satu anggota keluarga kita sudah didiagnosis menderita kondisi ini, hingga situasi menjadi semakin serius. Secara teknis, kondisi ini berkaitan dengan gula darah atau glukosa yang naik terlalu tinggi karena tubuh tidak dapat mengaturnya dengan baik.
Bagaimana dengan skalanya? Sangat besar, terutama di negara seperti Indonesia.
Diabetes adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) utama dan menjadi perhatian besar dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi diabetes meningkat secara signifikan, terutama di daerah perkotaan. Pemerintah Indonesia pun menetapkan manajemen diabetes sebagai prioritas nasional melalui Permenkes No. 4 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Dasar di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Diabetes bukan hanya sekadar masalah medis, tetapi sudah menjadi isu sistemik.
Banyak orang yang menganggap diabetes hanya sebagai satu penyakit. Diabetes dianggap memiliki satu penyebab dan satu solusi, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Pertama, Diabetes Tipe 1 biasanya mulai sejak usia muda. Diabetes 1 adalah kondisi autoimun, terjadi ketika tubuh secara keliru menyerang sel penghasil insulin sendiri.
Tidak ada penyebab yang pasti. Bukan karena makanan atau kebiasaan hidup, tetapi kondisi ini muncul begitu saja. Ketika sudah terjadi, penderita tidak dapat disembuhkan. Suntikan insulin setiap hari menjadi bagian dari kehidupan baru yang harus dijalani.
Sementara itu, Diabetes Tipe 2 lebih sering terjadi dan lebih kompleks. Faktor gaya hidup memang berperan dalam kondisi, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh genetik, stres, bahkan kondisi sosial ekonomi atau akses terhadap makanan.
Secara teknis, diabetes tipe 2 bisa dicegah, tetapi tidak mudah. Kenyataannya, tidak semua orang punya kesempatan yang sama untuk mencegahnya.
Ada juga Diabetes Gestasional yang muncul selama masa kehamilan. Sering kali, kondisi ini mereda setelah melahirkan, tetapi tidak selalu. Risiko berkembang menjadi Diabetes Tipe 2 di kemudian hari menjadi lebih besar.
Ada juga bentuk diabetes lain yang jarang terjadi. Beberapa kondisi terkait dengan faktor genetik tertentu, sedangkan kondisi lainnya berkaitan dengan kondisi medis lain. Jenis-jenis ini jarang dibicarakan, mungkin karena tidak sesuai dengan gambaran umum yang sering kita dengar.
In Indonesia, diagnosing diabetes isn’t just about noticing symptoms—it’s about access and protocol. The standard diagnostic tools include:
1️⃣ Fasting blood glucose test
2️⃣ Oral Glucose Tolerance Test (OGTT)
3️⃣ HbA1c (if available at the facility)
Pemeriksaan ini umumnya tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, sesuai dengan Permenkes No. 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program JKN. Namun, ketersediaan bisa bervariasi tergantung wilayah dan fasilitas.
Penanganan diabetes di Indonesia mengacu pada pendekatan yang terstruktur sesuai dengan kebijakan nasional. Berdasarkan Pedoman Nasional Praktik Klinis (PNPK), penanganan diabetes yang efektif meliputi:
Edukasi pasien mengenai gaya hidup dan perawatan diri
Terapi nutrisi medis (diet diabetes)
Aktivitas fisik secara teratur
Pemberian obat atau insulin bila diperlukan
Pemantauan kadar glukosa darah secara berkala
Fasilitas pelayanan primer, baik puskesmas, klinik, maupun praktik dokter umum, berperan sebagai garda terdepan dalam penanganan diabetes, sekaligus menjadi tempat dukungan pasien agar mampu mengelola kondisi diabetes secara mandiri.
Gejala diabetes bisa tampak jelas atau samar. Tak jarang, gejala diabetes baru disadari ketika kondisinya sudah serius.
Tanda-tanda yang tampak biasa, seperti sering buang air kecil, haus berlebihan, berat badan turun tanpa sebab, lelah terus-menerus, penglihatan kabur, sering kali diabaikan. Banyak penderita diabetes mengira dirinya hanya kelelahan atau banyak minum karena cuaca panas. Jadi, kondisi ini bisa terjadi secara diam-diam.
Hidup dengan diabetes bukan sekadar mengatur angka dan mengikuti pola makan, tetapi mengambil keputusan yang tepat setiap saat.
Kadang, penderita diabetes harus menghitung karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh.. Kadang, penderita diabetes juga hanya bisa menebak dan berharap.
Penderita diabetes sering kali harus hidup dengan rasa cemas yang diam-diam selalu ada. Sebagian penderita juga ketakutan akan mengalami hipoglikemia saat tidur. Sebagian penderita bahkan merasa jenuh karena harus merencanakan makanan dan camilan. Hal ini memaksa penderita diabetes untuk belajar menyesuaikan segala hal setiap saat.
Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua kondisi.
Beberapa penderita diabetes harus mencatat setiap makanan dan dosis insulin yang masuk. Beberapa yang lainnya berusaha menjaga rutinitas dasar, seperti minum obat, mengurangi konsumsi gula, dan tetap aktif.
Semua pendekatan bisa berhasil, tergantung pada penderita, kondisi, bahkan waktu. Solusi yang berhasil pada satu waktu, belum tentu berhasil pada waktu lainnya. Hal ini terkadang membuat penderita diabetes frustrasi, tetapi harus tetap menyesuaikan.
Mungkin saja. Penelitian terus berjalan, baik itu penelitian tentang regenerasi sel beta, pankreas buatan, bahkan terapi gen.
Setiap beberapa tahun, muncul artikel yang menyebut bahwa obat diabetes akan ada dalam lima tahun mendatang. Namun, waktu itu terus bertambah hingga penderita diabetes terpaksa belajar untuk tidak terlalu berharap. Penderita diabetes pun memilih untuk fokus menjalani hidup dan beradaptasi. Jika suatu hari nanti diabetes memang bisa disembuhkan dengan obat, itu akan menjadi bonus bagi penderitanya.
Diabetes bukan sekadar angka atau diagnosis, tetapi sesuatu yang terus menyertai penderitanya. Bagi penderitanya, diabetes kadang terasa samar, kadang sulit diabaikan. Ada yang bisa menghadapinya dengan baik, tetapi ada juga yang kesulitan.
Diabetes memengaruhi pilihan hidup, rutinitas harian, bahkan cara penderitanya memandang makanan. Namun, diabetes tidak menghapus kegembiraan, kekuatan, atau bahkan harapan penderitanya.
Penderita diabetes pun hanya bisa untuk melakukan yang terbaik untuk menjalani hidup.
Kalau sudah membaca sejauh ini, besar kemungkinan kamu ingin tahu lebih jauh tentang Manajemen Diabetes. Mungkin kamu seorang tenaga kesehatan, sedang merawat penderita diabetes, atau mungkin kamu sendiri yang mengalaminya.
Ingin tahu lebih dari sekadar “apa itu diabetes?”.
Itulah alasan kami mengembangkan pelatihan online tentang diabetes yang dilengkapi dengan penjelasan lengkap dan studi kasus. Semua materi dalam pelatihan ini tidak hanya dikembangkan dengan bukti ilmiah, tetapi juga dibentuk oleh pengalaman sungguhan.
Kami membahas segalanya, mulai dari jenis dan gejala, sampai pola makan, obat-obatan, dan pola pikir penderita diabetes.
Terkadang, tahu bagaimana cara menjalani hidup dengan diabetes sama pentingnya dengan tahu apa itu diabetes.
Jelajahi pelatihannya. Belajar dengan kecepatanmu sendiri.
Bangun kepercayaan diri—satu modul dalam satu waktu.
👉 Ikuti Kursus Diabetes Sekarang
Kamu tidak perlu mencari jawabannya sendirian!